PUBG Mobile

Dilarang di Aceh, PUBGM Digelar Meriah di Jeddah

Seperti yang telah diketahui bersama, Aceh yang selama ini dijuluki sebagai Serambi Mekah telah mengharamkan permainan Player Unknown’s BattleGrounds Mobile. Tak hanya PUBG Mobile, game-game sejenis lainnya seperti Free Fire, Mobile Legends, juga diharamkan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Ada lebih dari 10 game yang tercatat sebagai game yang haram dimainkan di Aceh.

Sampai saat ini, meski beberapa waktu telah berlalu, fatwa haram yang dikeluarkan oleh MPU Aceh masih mendapatkan perhatian besar dari komunitas PUBG Mobile di Indonesia. Bagaimanapun, ekosistem esports cabang PUBG Mobile sedang bagus di Indonesia. Fatwa haram yang baru saja diberlakukan di Aceh dikhawatirkan akan merembet ke seluruh Indonesia mengingat MUI juga pernah membahas tentang hal ini.

Berbeda dengan Aceh, Arab Saudi sekarang ini sedang menggelar sebuah festival Jeddah Season 2019. Ini menjadi salah satu festival yang sangat terkenal di Arab Saudi yang dijadikan sebagai cara pemerintah untuk memperkenalkan Arab Saudi kepada dunia. Uniknya lagi, dalam festival tersebut, salah satu acara yang diadakan adalah turnamen PUBG Mobile.  Turnamen ini telah digelar secara meriah dengan diikuti oleh sedikitnya 50 peserta dari masyarakat sekitar.

Turnamen PUBG Mobile dalam festival Jeddah ini digelar oleh General Sports Authority. Pihak penyelenggara adalah badan pemerintah yang memang bertanggung jawab di bidang olahraga, termasuk olahraga digital atau esports.

Dalam berita yang dikutip dari Arab News pada 26 Juni 2019 lalu, turnamen PUBG Mobile ini digelar secara meriah. Turnamen ini telah digelar sejak tanggal 15 – 21 Juni 2019 yang diikuti oleh 50 pemain. Sang pemenang adalah Ahad Uz Zuhud yang berhasil mengalahkan 49 pemain lainnya. Ia adalah pria berumur 20 tahun yang juga seorang mahasiswa. Sebagai pemenang, ahad Uz Zuhud mengaku memang sering sekali menghabiskan waktu untuk bermain game PUBG Mobile. Ia pun tak jarang dimarahi oleh sang Ibu karena terlalu lama menghabiskan waktu bermain game. Kali ini, ia membuktikan bahwa kebiasaan yang dianggap buruk ini ternyata bisa membawanya menjadi juara.

Turnamen PUBG Mobile yang telah selesai diadakan ini sedikit banyak memberikan gambaran pada kita tentang game PUBG Mobile yang selalu mengundang kontroversi. Permasalahan game digital di berbagai negara kurang lebih sama, yaitu bisa membuat para pemain lupa waktu dan ketagihan. Ini tentu jadi persoalan bersama.

Akan tetapi, pemerintah Aceh dan Arab Saudi memberikan tanggapan yang berbeda-beda berkaitan dengan fenomena game PUBG Mobile. Di Arab Saudi, permainan ini tidak diharamkan. Bahkan, pemerintah mengadakan turnamen PUBG Mobile sebagai salah satu acara yang menyemarakkan Jeddah Festival.

Sementara itu, di Aceh, MPU sudah mengeluarkan fatwa haram. Turnamen PUBG Mobile Aceh yang rencananya akan diadakan pada Juli mendatang pun harus dibubarkan akibat fatwa haram yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bahkan, dalam rangka melakukan sosialisasi dan penertiban, Satuan Polisi Aceh ikut turun tangan dan melakukan razia di beberapa cafe yang sering dijadikan sebagai tempat nongkrong untuk bermain PUBG Mobile. Bagi para pecinta game PUBG Mobile, hal ini tentu sangat disayangkan.

Isu-isu lain pun muncul seperti adanya hukum cambuk bagi para pemain PUBG Mobile yang tertangkap sedang bermain. Ini tentu menjadi hal yang cukup meresahkan bagi para pemain. Meski begitu, masyarakat Aceh pada umumnya menghormati keputusan dari MPU Aceh. Semoga ke depannya ada kebijakan yang lebih baik terkait fatwa Haram PUBG Mobile dan game-game sejenis lainnya.

Leave a Reply